Sehari Bersua #1

Jam weker berdering tepat pukul 04:30, adzan shubuh mulai terdengar dari toa tempat ibadah terdekat. seorang gadis bertubuh kecil, dengan rambut panjang sebahu terbangun dari tidurnya. saat Handphone sudah menjadi alat yang canggih untuk membangunkan seseorang dari tidurnya. ia masih sebegitu cintanya dengan jam weker lawas seharga 15000 ribu yang ia beli di toserba langganannya di pasar. matanya mengerjap perlahan, samar-samar melihat sekeliling kamarnya yang masih tampak gelap, karena belum terkena seberkaspun cahaya. tangannya meraba sekitar bantal, mencari jam wekernya yang masih berdering. 
Akhirnya ia duduk di atas ranjang, menahan rambutnya dengan jepit berwarna merah muda. Menyibak selimut bergambar beruang yang juga berwarna merah muda. Ia melangkah menuju dapur, mengambil teko untuk memasak air. Sambil masih mencoba sadar dari tidurnya, ia mengisi air di teko hingga 3/4 menuju penuh. Lalu memanaskannya di atas kompor. Langkahnya berlanjut menuju bilik kamar mandi. Air yang …

Insomnia

Malam semakin larut oh bukan, pagi sebentar lagi datang. Ku dengar matahari mulai berjalan menuju langit kota kita. Sementara aku disini, secara sepihak merindukan mu. Menghabiskan malam dengan menatapi potret mu di langit langit kamar. Menyumpal kenangan akan suara hangat mu dengan sebuah lagu berjudul Rumah. Lagu itu mengatakan bahwa kau akan pulang. Jarimu akan mengisi sela jari ku yang hampa. Bibir mu  akan mengisi kening ku yang kering. Aroma tubuh mu akan mendekap ku. Membebat hidungku dengan aroma kerinduan yang lama aku dambakan.


Sayangnya, aku tahu betul, bagaimana lagu itu membohongi ku. Bertahun-tahun, ribuan kali aku dengarkan, jutaan kali aku senandungkan. Tidak sesentipun bagian tubuh mu muncul di hadapan ku. Mataku menatap potret wajah mu yang memakai topi berbentuk kepala anjing. Kau tersenyum lebar, mata mu berbinar. Aku duduk disebelahmu, mengenakan topi berbentuk kepala panda, mengabadikan momen kita.

Tiba-tiba muncul hujan deras dihatiku beserta badai besar yang mengamuk minta ditenangkan. Alih-alih berlindung, badai itu tiba di hulu mata ku, mengalir deras bermuara di ujung dagu. Pelan tapi pasti aku terisak. Memeluk selimut bergambar bendera Amerika. Menahan sakitnya kerinduan.

Andai bisa aku ingin berlari ke rumah sakit sekarang. Meminta dokter untuk meredakan nyeri rinduku. Sayangnya, semakin ku tahan, semakin rindu ini menghujam. Sesaat kemudian dada ku terasa panas, kerongkongan ku tercekat. Sial, rindu ini mematikan tapi tak pernah benar-benar bisa membunuhku.

Setiap pagi aku harus bangun dengan tangan yang meraba bayangmu. Menjalani kehidupan yang membosankan tanpa sapaan dari mu. Kemudian menghabiskan malam dengan tangisan.

Pukul 02:00 dinihari, aku masih terjaga. Hatiku berbisik pada langit malam. "Kapanpun kau akan pulang. Hati ku siap menjadi rumah mu."

Setelahnya kau bisa menebak apa yang terjadi.

Komentar

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. nyeri karena rindu tak bisa diobati, hanya bisa diredakan dengan pertemuan, tapi berapa banyak pun pertemuan, tidak menjamin kedepannya nyeri itu akan memudar atau justru membuncah.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

KKN (Kisah Kasih Nyata), Mitos atau Fakta ?

Berenang bersama warga Jogjakarta asli di kolam renang Umbang Tirta

Falling in Love with Wira Setianagara