Postingan

Menampilkan postingan dari 2022

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya.

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya.

Mungkin, aku akan menunggu!

 Aku mulai kehilangan diriku sendiri. Aku kehilangan namaku, identitasku, dan siapa diriku. Tepat disaat aku menyadari bahwa itu semua hanya kebohongan belaka.  Angin malam sedang berhembus dari sela-sela jendela yang aku biarkan terbuka. Bukan kehangatan yang aku dapatkan, malam ini terasa panas sekali hingga hatiku berkeringat.  Aku terus mempercayai perkataan bohong manusia. Katanya mereka akan datang hari sekian pukul sekian, ternyata mereka hanya pintar membuat ku menunggu. Lantas apalagi setelah ini?. Tidak tahu, aku masih harus menunggu.  Jam berputar dengan kejamnya di depanku, ia terus merubah angka setiap waktu. Aku jadi gelisah, apa dan apa lagi setelah ini. Tidak tahu, aku masih harus menunggu.  Aku lelah jadi diri sendiri, tapi katamu diriku yang mana. Tidak tahu. Aku masih harus menunggu lagi sampai aku menyadari diriku yang mana yang hilang. Memangnya aku siapa dan seperti apa. Tidak tahu. Jadi mari kita menunggu lagi.  Dulu, aku seolah punya pijar lampu yang menggantung

KALA

Gambar
Ini adalah kisah tentang Kala, seorang laki-laki yang sudah sedemikian seringnya mengusik pagi dan malamku, menyeruak masuk ke dalam degub jantung dan aliran darah ku, memberontak isi kepala dan debar hati. Entah sudah yang keberapa kali, aku terus mengucap syukur, tentang bagaimana Tuhan membiarkan ia hadir dalam hidupku. Tulisan ini, adalah wujud lain atas rasa syukurku akan kehadirannya, serta pengingat untukku yang sudah jadi pelupa ini. .... Kala, namanya tak pernah sekalipun terlintas akan ada dalam hidupku. Kala adalah Kala, aku dan dia tak pernah benar-benar memiliki ruang untuk mengenal satu dengan yang lainnya. Jujur, aku bingung bagaimana menulis awal kedekatan ku dengannya.  Pikiran ku melayang pada awal tahun lalu, saat aku mulai disibukkan dengan tugas akhir untuk gelar sarjana. Ahh, aku tidak sesibuk itu sebenarnya, hanya sok-sokan mengeluh layaknya mahasiswa tingkat akhir lainnya.  Aku tidak benar-benar tahu bagaimana cara membuat tugas akhir, namun