Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2020

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya.

Selamat Malam, Maya.

Dua orang manusia duduk dibagian luar Cafe yang tidak tersekat oleh dinding ruangan. Seorang wanita yang duduk bersandar pada kursi dengan tangan menyilang di depan dada. Serta seorang laki-laki yang duduk dengan punggung tegap. Menyandarkan lengannya diatas meja dengan tatapan serius menjurus ke lawan bicaranya. Dua gelas minuman berbeda jenis dengan rasa yang sama-sama tidak manis sudah terminum separuh, bertelekan diatas meja. Tanaman english ivy yang menutup dinding bagian luar Cafe mendramatisir suasana diantara mereka berdua. Angin bertiup perlahan mengisi ruas jari dan membelai sela rambut dua orang tersebut.  "Jadi kamu mau apa?" Ucap laki-laki itu berbisik dengan tajam, nada mengancamnya terdengar miris. "Pertanggung jawabkan perbuatanmu." Balas wanita itu tak kalah sinis. Matanya menatap tanpa ada keraguan sedikit pun. Kaki kanannya terangkat kemudian menyilang diatas kaki kirinya.  "Jadi maksudmu gimana?" Laki-laki itu masih menc