Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2020

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya.

Corona dan Manusia

Aku baru menyelesaikan dua tulisan ketika sebuah pesan elketronik muncul di layar ponsel.  'Chik, titip cek kondisi pasar sama stok gula ya,' Koordinator Liputan meminta ku meliput situasi pasar ditengah merebaknya wabah Corona. Sejujurnya hari ini, aku tidak merencanakan pergi kemana-mana, aku hanya menghubungi beberapa narasumber untuk melakukan wawancara secara daring, baik melalui sambungan telepon maupun pesan elektronik.  Segera aku pergi mandi dan bersiap-siap. Lima belas menit berlalu, aku siap mengenakan jaket dan masker. Sudah satu bulan belakangan aku terserang batuk dan pilek. Aku juga sudah bertandang ke dokter dan meminum tiga obat berbeda. Katanya, aku hanya terkena flu biasa, ditambah sedikit asam lambung.  Gerimis menemani perjalanan ku menuju pasar di kawasan Bantul. Pasar pertama yang ku kunjungi sudah tak berpenghuni, bahkan nampak gelap dan menyeramkan. Di bawah langit yang mendung aku memacu sepeda motorku, tidak terlalu kencang hanya 40