Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2020

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya.

Aku Bukan Chairil Anwar

Aku ingin lari, jauh, jauh sekali. Kadang aku ingin tenggelam dalam lautan, lalu menghilang di pegunungan. Aku ingin menjauh dari diriku sendiri, ingin lepas jadi diri sendiri, ingin jadi sesuatu yang baru. Aku kehilangan arahku, kehilangan akalku, kehilangan diriku. Aku, tidak tahu siapa aku.  It's hurt. Ini terasa sakit disini. Ini terasa sakit saat aku menepuk dadaku. Ada luka yang tak kasat mata. Luka yang seperti tusukan pisau sangat dalam. Seolah rongga hatimu dikorek dengan benda tajam. Bertahun-tahun, bertahun-tahun sudah luka itu hidup, semakin lebar dan menyebar. Tapi setiap tahun juga kau belajar untuk mengacuhkannya.  Katanya harus sudah lebih dewasa.  Luka itu memudar, oleh perasaan sudah harus lebih dewasa. Tertutupi oleh wajah-wajah palsu yang terus berganti setiap hari. Lama-lama aku lupa aku siapa. Lama-lama aku tidak tahu aku yang mana. Kadang aku terdiam menatap ke dalam cermin, lalu bingung yang di dalamnya itu wajah siapa.  Semakin hari, aku jadi pandai bersand