Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya.

Pathetic

Dua tahun berlalu sejak aku fikir semua itu sudah berakhir. Katanya, waktu dapat menyembuhkan luka yang menganga. Katanya, lama-lama kita akan terbiasa dengan keadaan yang ada. Ternyata, setiap detik, lebih dari 720 hari aku hanya berpura-pura seolah tidak apa-apa. Bahwa aku baik-baik saja meninggalkannya dan semua kenangan buruk itu.  "Percuma,"  Aku berteriak pada bayangan diriku dicermin. Betapa kerdil dan pengecutnya jiwa yang bersembunyi dibalik sosok yang mencoba mengalahkan dunia ini. Mataku menatap nanar jari-jari kecil yang kumiliki. Bisa apa tangan ini? Mampu menggenggam apa dengan telapak yang sempit ini. Bahkan saat aku terluka dan menangis, mereka tak cukup lebar untuk menyeka semua air yang mengalir atau menutup wajahku yang melebar di bagian pipi.  Di televisi, mereka membantu orang-orang dengan rumah yang 'tak layak' menjadi sebuah 'singgasana' baru yang katanya (lagi) lebih baik. Tapi kenapa, tidak ada yang membantu jiwaku yang su