Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2018

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya.

Sajak untuk Babah

Sepasang Ada sepasang sepatu Berjalan seiringan Sejalan Tapi tak bisa bersentuhan Ada sepasang telinga Mendengar setiap suara yang sama Tapi tak mendengar satu sama lain berbicara Ada sepasang mata yang berdampingan Satu pandangan Tapi tak pernah saling memandang Ada sepasang raga berjauh jauhan Namun hatinya bertautan Ada dua rasa yang bergetar pada dentum yang sama Adalah saat dua kulit bergesekan Saling remas Saling sentuh Saling jaga Saling rasa Ada sepasang kekasih Yang saling cinta Tapi tak bersama Jadi saling rindu Karena lama tak bertamu