Postingan

Hitam dan Tercemar

  ' Like living in the dream.' Kabut menyelimuti langit pukul 05.30 pagi. Benda tak padat, yang tak bisa digenggam itu menelisik anggun di antara pepohonan, membuat beberapa dahan ketutupan. Seperti di dalam lukisan, kabut itu turun dari langit, ke sela sela pohon, hingga berbaur dengan orang-orang di atas tanah. Kabut datang bersama hawa dingin yang mengungkung sekujur tubuh. Seolah es yang membekukan kulit bagian luar, mendekap kuat tapi tak menghangatkan. Meski dingin menerjang, udara pagi di pegunungan tetap menawan paru paru yang penuh kepulan asap kendaraan dan tembakau bakar. Katlya duduk di pembatas jalan, merapatkan jaket yang dikenakan. Hidungnya memerah dan berlendir, pipinya dingin tapi kenyal seperti kue mochi di dalam freezer. Ia menggosokkan telapak tangannya mencari kehangatan. Seperti naga kehilangan daya, nafasnya menyemburkan asap tanpa api. "Kenapa mbak motornya? Mogok?," seorang pria paruh baya dengan celana pendek dan celurit menghampiri Katlya. ...

cinta dan kasih

Apa salahnya punya mata? Meski ia hantarkan luka Apa salahnya punya hati? Meski tak selalu bahagiakan diri Apa salahnya jatuh cinta? Meski ujungnya tak bersama Tidak ada yang salah jika aku menyukaimu Bukan hal yang salah juga jika kau menyukainya Sama halnya jika aku mendambakan pujangga Kaupun berhak mendambakan sesiapa saja Tidak heran jika kaupun menginginkannya Parasnya indah khas nirwana Polah tingkahnya anggun bak putri raja Bidadari surga yang lahir di dunia Sama sepertimu ia begitu istimewa Sempurna dimata ku yang hina Terimakasih pernah mengijinkan ku jatuh cinta Terimakasih pernah hadir sebagai sosok hampa

jauh

jauh... bagaimana aku harus memulai dengan sesuatu yang jauh jauh... bagaimana aku harus mendefinisikan sesuatu yang jauh jauh... bagaimana aku bisa merasakan sesuatu yang jauh persetan dengan logika demi Tuhan hati merasa apa yang jauh begitu terasa di dada dan apa yang ada dimata malah tak kasat mata jauh... ada a dan u ada ja dan uh seperti seharusnya cukup ada dan kamu.... kenapa harus ada dia sebagai definisi jarak diantara kita... aku benci dia yang terlalu sempurna untuk menjadi jarak antara kita tapi aku suka kamu yang terlalu jauh untuk ku miliki

masa lalu

ingin aku terus berlalu meninggalkan langkah getir di masa lalu mencoba menghapus sebaris sesak dalam ingatan mencoba lupakan sebongkah luka dalam sayatan kadang ingin aku lantas berlari tapi kaki terjebak dalam henti kadang semburat luka coba sadarkan bagaimana perihnya sebuah kebersamaan kadang perih juga ingatkan bahwa bersama tak lantas bahagia tapi apa mau dikata kala hati terjebak pada nostalgia kala cinta hanya terpaku pada sosoknya lelah aku menangis dalam malam-malam hampa kesal aku berteriak pada langit ksong tak bertuan menyerah aku akan hamparan tanah tak berbentuk lepas... dan lepaskan... hempas dan tinggalkan akhirnya akupasrah pada kaki yang melangkah TERJUN DALAM PALUNG PENYESLAN TERDALAM dan menghilang dalam penjara kenistaan -chika_chilato-

naskah drama 1

7 pancaran sinar             Tampak di tanah yang kotor dan berbau busuk itu. Seonggok daging hidup masih menderu – deru bernafas. Kian hari tubuhnya kian ringkih. Long – long an jeritan hatinya tak lagi mampu ia kendalikan. Ia bukan tawanan perang, ia bukan pula rakyat sipil korban perang. Ia seonggok daging bernyawa yang pergi mencari hal lain dalam sisi gelap kehidupan. ( sebuah cahaya hadir ) Develin             : anak muda.... siapakah nama mu? Langkah kan lah sepasang kaki itu mendekat pada ku. Ke istana kasih dan sayang. Riou                 : suara siapa gerangankah itu... begitu merdu bagai lantunan doa suci para bidadari. (terbangun dan terseok mencari arah asal suara)             Temaram cahaya itu di tangkap oleh sepasang ...

zainuddin

Gambar
  Zainuddin           Langit masih setia dengan warna biru cerah dan gumpalan awan putih tak bernoda siang ini. Aku pun menerawang ke atas sana, menilik ada rahasia tuhan apa yang ditulis di balik kepolosan warna biru siang ini. Namun, itu hanya kesibukan yang aku buat. Demi menentramkan hati yang terus menerus bergejolak. Mataku terpejam hikmah mencoba bercakap dengan Tuhan. Aku bertanya padanya,           “ Tuhan alasan apa kau pertemukan aku dengan dia? Kebetulankah atau?”           Mataku terbuka tak sanggup melanjutkan kalimat yang aku rangkai sendiri. Aku meraba kenangan ku dengannya. Hari pertama aku bertemu dengannya. Semua itu berawal biasa saja. Tidak ada tabrakan saat aku membawa buku. Atau aku terjatuh dan ditangkap olehnya. Atau aku dan dia yang saling menatap untuk sepersekian detik. Apalagi tangan kami yang bersentuhan saat...